Sabtu, 10 Oktober 2020

NASKAH PUISI LOMBA BULAN BAHASA 2020

 

PUISI WAJIB:

Tanah Air  Mata

Karya Sutardji Calzoum Bachri

Tanah air mata tanah tumpah dukaku

Mata air air mata  kami

Airmata tanah air  kami

Di sinilah kami berdiri

Menyanyikan air mata kami

Di balik gembur subur tanahmu

Kami simpan perih kami

Di balik etalase megah gedung-gedungmu

Kami coba sembunyikan derita kami

Kami coba simpan nestapa

Kami coba kuburkan dukalara

Tapi perih tak bisa sembunyi

Ia merebak kemana-mana

Bumi memang tak sebatas pandang

Dan udara luas menunggu

Namun kalian takkan bisa menyingkir

Kemanapun melangkah

Kalian pijak airmata kami

Kemana pun  terbang

Kalian kan hinggap di airmata kami

Kemanapun berlayar

Kalian arungi airmata kami

Kalian sudah terkepung

Takkan bisa mengelak

Takkan bisa kemana pergi

Menyerahlah pada kedalaman airmata kami

 

 

 

PUISI PILIHAN:

Nyanyian Kemerdekaan

Karya Ahmadun Yosi Herfanda

hanya kau yang kupilih, kemerdekaan di

antara pahit-manisnya isi dunia akankah

kaubiarkan saya duduk berduka

memandang saudaraku, bunda tercintaku

dipasung orang aneh itu?

mulutnya yang kelu

tak bisa lagi menyebut namamu

Berabad-abad kau terlelap

Bagai maritim kau kehilangan ombak

Burung-burung yang semula

Bebas dihutannya

Digiring ke sangkar-sangkar

Tak bebas mengucapkan kicaunya

Hanya kau yang ku pilih

Darah dan degup jantungmu

Hanya kau yang ku pilih

Diantara pahit-manisnya isi dunia

Orang aneh itu berabad-abad

Memujamu dinegerinya

Namun di negriku

Mereka berikan belengu-belenggu

Maka bangkitlah Sutomo

Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo

Bangkitlah Ki Hajar Dewantara

Bangkitlah semua dada yang terluka

-Bergenggam tanganlah dengan saudaramu

Eratkan genggaman tangan itu atas namaku

Kekuatan yang memancar dari genggaman itu –

Suaramu sayup di udara

Membangunkanku dari mimpi siang yang celaka

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

Di antara pahit-manisnya isi dunia

Berikan degup jantungmu

Otot-otot dan derap langkahmu

Biar kurterjang pintu-pintu terkunci itu

Dan mendobraknya atas namamu

Terlalu pengap

Udara yang tak tertiup

Dari rahimmu

Jantungku hampir tumpas

Karena racunnya

(matahari yang kita tunggu

akhirnya bersinar  juga

di langit kita )

 

 

 

 

PUISI PILIHAN:

Siapakah Engkau, Corona

Karya Marhalim Zaini

 

Sejak engkau datang, kami mengurung diri dalam rumah.

Mengunci pintu dan jendela, menutup lubang angin,

menutup segala yang terbuka dari rasa takut.

Padahal kami tidak tahu, engkau ada di luar

atau di dalam tubuh kami.

Siapakah engkau, Corona?

Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar,

kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan

dari rumah ibadah kami. Padahal kami selalu tak

mampu untuk keluar dari keramaian dalam kepala kami.

Siapakah engkau, Corona.

Engkau datang seperti bala tentara dalam operasi senyap

menembaki ribuan orang di seluruh dunia dengan peluru kecemasan,

padahal kami hanya orang biasa yang tak punya  senjata,

yang selalu percaya bahwa perang hanya untuk para tentara.

Siapakah engkau, Corona?

Hari ini, kami memang akhirnya mengunci diri

dalam rumah, tapi kami tidak sedang menyerah.

Peluru-peluru sedang kami siapkan dari doa-doa

yang setiap saat kami rapalkan. Kami punya iman

yang setiap waktu menyala dalam kegelapan.

Tapi siapakah engkau, Corona.

Apakah engkau hanya datang sebagai pengecut,

yang menyerang saat kami buta. Saat kami kerap lalai

menyalakan api iman dalam dada. Saat kami terlalu

bahagia dengan gemerlap dunia, dan lupa pada dosa-dosa.

Corona, siapapun engkau, kami tak lagi peduli.

Karena hari ini, kami sedang berdiam dalam diri,

mencari tahu, siapakah kami sesungguhnya

dalam tubuh fana yang renta.

  

PUISI PILIHAN

KRAWANG-BEKASI

Karya Chairil Anwar

 

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN BULAN BAHASA DAN SASTRA TAHUN 2020 SMAN 4 KANDIS

PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN PERINGATAN BULAN BAHASA DAN SASTRA SMAN 4 KANDIS TAHUN 2020   I.            PENDAHULUAN Bulan bahasa adalah merupak...